Hi Friends ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?
Welcome On Not Magazine Website
News Mobile Version

Malang Miliki Biola Tertua di Dunia

Written By HENRY GO BLOG on Senin, 11 Juli 2011 | Senin, Juli 11, 2011


Biola merek Antonio Stradivari buatan tahun 1725 yang ditemukan seseorang di Malang, Jawa Timur, diyakini sebagai salah satu biola tertua di dunia. Ditemukan tepatnya di sebuah pasar rombeng, Kota Malang. Penemunya adalah Mudzoffar (75), warga Jl. Batok Gg I, No 5 Kelurahan Sisir, Kota Batu. Mudzoffar, yang membelinya pada tahun 1957.

Ia membelinya pada seorang lelaki keturunan Tiong Hoa, bernama Om Sui. Waktu itu, Mudzoffar mendapatkan biola itu tanpa senar. Biola tersebut dibelinya dengan harga Rp 7.000. Mudzoffar yang sejak remaja memang hobi bermain musik tak pernah tahu biola yang dibelinya sangat berharga.

"Namun, waktu itu, saat saya membeli biola, saya tidak tahu kalau biola itu adalah biola jenis bagus," akunya, ditemui Kompas.com, di rumahnya, Sabtu (9/7/2011). Baru belakangan Mudzoffar mengetahui bahwa biola yang dimilikinya itu alat musik tertua setelah membaca sebuah artikel di internet. "Saat itu saya baru tahu. Lalu saya cek ternyata memang ada tahun pembuatannya di bodi biola ini," katanya, sembari memegang biola tersebut.

Biola tersebut adalah buatan Antonio Stradivari yang diproduksi tahun 1725. Nama pembuat dan tahun produksi itu sendiri terdapat di dalam bodi biola. "Hal itulah yang membuat saya yakin kalau biola ini adalah salah satu yang tertua di Indonesia dan bahkan di dunia," katanya.

Sementara itu, dari penelusuran Mudzoffar sendiri, baik buku dan sejumlah artikel tentang biola Antonio Stradivari, biola buatan Antonio Stradivari itu memang salah satu biola terbaik di dunia. Ciri-cirinya, terdapat pada label Antonius Stradivarius Cremonensis Faciebat Anno, lalu diikuti tahun pembuatannya. Adapun instrumen karya Stradivari yang terbaik, diproduksi antara tahun 1698-1725, puncaknya pada tahun 1715. Setelah 1730, beberapa instrumen ditandatangani Stradivari, dan dibuat oleh kedua anak Stradivari yang bernama Omobomo dan Francesco.

Stradivari selama hidupnya hanya membuat 1.100 alat musik, dan sebagian besar adalah biola. Di antara jumlah tersebut hanya sekitar 650 alat musik (512 diantaranya adalah biola) yang masih bertahan di atas usia 250 tahun. "Sementara, yang lainnya ada yang sudah hancur dalam kebakaran atau kecelakaan lain, ada yang hilang di laut atau banjir, dan beberapa dihancurkan oleh bom api Dresden dalam Perang Dunia kedua," jelasnya.

Biola Stradivari itu adalah salah satu biola terbaik di dunia yang pernah diciptakan dan mempunyai harga paling tinggi. Hingga saat ini masih dimainkan oleh pemain biola professional. Setiap biola buatan Stradivari yang masih ada, mempunyai julukannya masing-masing. Pada 21 Juni 2011 lalu, 1721 Stradivari biola yang dikenal sebagai "Lady Blunt" dibeli oleh seorang penawar anonim seharga 9.808.000 poundsterling. Uang hasil lelang itu digunakan membantu para korban gempa bumi Jepang.

Sementara pada 14 Oktober 2010, 1.697 biola Stradivari yang dikenal sebagai "Molitor" dijual online oleh Tarisio Lelang seharga 3.600.000 dollar AS, saat konser pemain biola terkenal Anne Akiko Meyers. Sebelumnya, pada 16 Mei 2006, Balai Lelang Christie melelang 1707 Stradivari Hammer seharga 3.544.000 dollar AS.

Sampai saat ini, meski biola milik Mudzoffar itu tergolong langka, masih belum pernah ada yang menawar untuk dibeli. "Kalau ada yang beli ya tidak apa-apa, asal cocok harganya," katanya. Saat ini, biola tersebut sudah ada senarnya, dibelikan oleh Mudzoffar, agar bisa digunakan untuk bermain musik dirumahnya.

"Saat ini sudah saya belikan senar. Ini sering digunakan di Orkes Melayu Sinar Harapan, yang didirikannya pada 1954. Hingga saat ini, kualitas bunyi yang dihasilkan memang cukup jernih," akunya.


sumber
Senin, Juli 11, 2011 | 0 komentar

Anwar Ibrahim Dituduh Dalang Kerusuhan di Malaysia


Pemimpin oposisi, Anwar Ibrahim, dituduh dalang di balik demonstrasi yang berakhir rusuh di Kuala Lumpur kemarin, Sabtu, 9 Juli 2011. Melalui demonstrasi ini, Anwar dikatakan menggalang dukungan untuk pemilihan Perdana Menteri berikutnya.

Tuduhan ini disampaikan oleh Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, seperti diberitakan Bernama, Minggu, 10 Juli 2011. Dia mengatakan bahwa Anwar adalah seorang oportunis yang menggunakan kelompok Bersih 2.0 demi memanipulasi dukungan terhadapnya.

Najib juga mengatakan bahwa ini adalah langkah putus asa yang dilakukan Anwar karena pemerintah berhasil mendulang dukungan lebih berkat perkembangan ekonomi. Dia mengatakan Anwar akan mengorbankan segalanya, bahkan agama dan sukunya, demi mimpinya menjadi perdana menteri.

"Dia tahu jika tidak melakukan sesuatu, kami (Barisan Nasional) akan memenangkan pemilu ke 13. Ini adalah kesempatan terakhir bagi Anwar. Jika seseorang tahu ini adalah kesempatan yang terakhir, maka mereka akan melakukan semuanya, baik atau buruk," kata Najib.

Najib juga mengatakan Anwar berusaha untuk merusak citra Malaysia di mata dunia. Dia berusaha menanamkan opini bahwa Malaysia tidak demokratis dan menggambarkan dirinya sendiri sebagai seseorang yang sempurna.

"Ini adalah sifat negatifnya yang tidak berubah dari dulu hingga sekarang," ujar Najib.

Anwar juga dikatakan munafik. Demonstrasi yang dipimpinnya menuntut pemilu bersih dan adil, padahal, kata Najib, partai yang dipimpinnya, PKR, juga diterjang berbagai skandal.

Para demonstran pada aksi Operation Erase Bersih yang diikuti oleh puluhan ribu massa di Kuala Lumpur bentrok dengan polisi Malaysia. Dilaporkan puluhan orang terluka, termasuk di antaranya adalah pemimpin oposisi, Anwar Ibrahim. Sebanyak 1.667 orang demonstran ditahan dalam peristiwa tersebut.


sumber
Senin, Juli 11, 2011 | 0 komentar

Polisi Malaysia Tembakkan Gas Air Mata ke Rumah Sakit


Sejumlah foto dan saksi mata memastikan polisi Malaysia menembakkan gas air mata dan air ke dalam kompleks Rumah Sakit Tung Shin di Jalan Pudu, Kuala Lumpur. Dua karyawan rumah sakit menyaksikan langsung penembakan itu saat aksi Bersih 2.0 pada Sabtu 9 Juli 2011 lalu.

Salah satu staf rumah sakit yang bertanggung jawab atas pengelolaan ambulans, menyatakan polisi menembakkan gas air mata tiga kali. Kemudian diikuti tembakan air dari water cannon namun tak bisa masuk ke dalam bangsal rumah sakit, hanya menerpa dinding.

Seorang pria 50-an tahun yang tak ingin dikutip namanya, menyatakan polisi mulai menembakkan gas air mata ke arah sekumpulan orang di depan rumah sakit itu. Orang-orang berlarian ke dalam rumah sakit, kemudian diikuti penembakan ke dalam dan polisi menerobos masuk menahan sejumlah orang. Sebagian demonstran berhasil kabur ke bukit kecil di samping rumah sakit.

Polisi Membantah

Inspektur Jenderal Polisi Ismail Omar dan Kepala Polisi Kuala Lumpur Amar Singh membantah tuduhan polisi menembakkan gas air mata ke dalam rumah sakit. Namun, situs berita Malaysiakini mendapatkan sejumlah foto yang memperlihatkan aksi brutal polisi itu.

Staf rumah sakit menyebutkan, para demonstran itu tersudut sehingga melarikan diri masuk ke dalam rumah sakit karena gagal mencapai Plaza Rakyat, sasaran aksi sebenarnya yang berseberangan dengan rumah sakit.

"Mereka membuat kerumunan itu tak ada pilihan selain masuk ke rumah sakit," kata staf itu.


sumber
Senin, Juli 11, 2011 | 0 komentar

Siapakah La Galigo ?

Written By HENRY GO BLOG on Kamis, 07 Juli 2011 | Kamis, Juli 07, 2011


Sureq Galigo, atau Galigo, atau disebut juga La Galigo adalah sebuah epik mitos penciptaan dari peradaban Bugis di Sulawesi Selatan (sekarang bagian dari Republik Indonesia) yang ditulis di antara abad ke-13 dan ke-15 dalam bentuk puisi bahasa Bugis kuno, ditulis dalam huruf Lontara kuno Bugis. Puisi ini terdiri dalam sajak bersuku lima dan selain menceritakan kisah asal-usul manusia, juga berfungsi sebagai almanak praktis sehari-hari.

Epik ini dalam masyarakat Bugis berkembang sebagian besar melalui tradisi lisan dan masih dinyanyikan pada kesempatan-kesempatan tradisional Bugis penting. Versi tertulis hikayat ini yang paling awal diawetkan pada abad ke-18, di mana versi-versi yang sebelumnya telah hilang akibat serangga, iklim atau perusakan. Akibatnya, tidak ada versi Galigo yang pasti atau lengkap, namun bagian-bagian yang telah diawetkan berjumlah 6.000 halaman atau 300.000 baris teks, membuatnya menjadi salah satu karya sastra terbesar.


Latar belakang dan usaha pelestarian
Ada dugaan pula bahwa epik ini mungkin lebih tua dan ditulis sebelum epik Mahabharata dari India. Isinya sebagian terbesar berbentuk puisi yang ditulis dalam bahasa Bugis kuno. Epik ini mengisahkan tentang Sawerigading, seorang pahlawan yang gagah berani dan juga perantau.

La Galigo bukanlah teks sejarah karena isinya penuh dengan mitos dan peristiwa-peristiwa luar biasa. Namun demikian, epik ini tetap memberikan gambaran kepada sejarawan mengenai kebudayaan Bugis sebelum abad ke-14.

Versi bahasa Bugis asli Galigo sekarang hanya dipahami oleh kurang dari 100 orang. [3] Sejauh ini Galigo hanya dapat dibaca dalam versi bahasa Bugis aslinya. Hanya sebagian saja dari Galigo yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan tidak ada versi lengkapnya dalam bahasa Inggris yang tersedia. [1] Sebagian manuskrip La Galigo dapat ditemui di perpustakaan-perpustakaan di Eropa, terutama di Perpustakaan Koninklijk Instituut voor Taal- Land- en Volkenkunde Leiden di Belanda. Terdapat juga 600 muka surat tentang epik ini di Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, dan jumlah muka surat yang tersimpan di Eropa dan di yayasan ini adalah 6000, tidak termasuk simpanan pribadi pemilik lain.

Hikayat La Galigo telah menjadi dikenal di khalayak internasional secara luas setelah diadaptasi dalam pertunjukan teater I La Galigo oleh Robert Wilson, sutradara asal Amerika Serikat, yang mulai dipertunjukkan secara internasional sejak tahun 2004.


Isi hikayat La Galigo
Epik ini dimulai dengan penciptaan dunia. Ketika dunia ini kosong (merujuk kepada Sulawesi Selatan), Raja Di Langit, La Patiganna, mengadakan suatu musyawarah keluarga dari beberapa kerajaan termasuk Senrijawa dan Peretiwi dari alam gaib dan membuat keputusan untuk melantik anak lelakinya yang tertua, La Toge' langi' menjadi Raja Alekawa (Bumi) dan memakai gelar Batara Guru. La Toge' langi' kemudian menikah dengan sepupunya We Nyili'timo', anak dari Guru ri Selleng, Raja alam gaib. Tetapi sebelum Batara Guru dinobatkan sebagai raja di bumi, ia harus melalui suatu masa ujian selama 40 hari, 40 malam. Tidak lama sesudah itu ia turun ke bumi, yaitu di Ussu', sebuah daerah di Luwu', sekarang wilaya Luwu Timur dan terletak di Teluk Bone.

Batara Guru kemudian digantikan oleh anaknya, La Tiuleng yang memakai gelar Batara Lattu'. Ia kemudian mendapatkan dua orang anak kembar yaitu Lawe atau La Ma'dukelleng atau Sawerigading (Putera Ware') dan seorang anak perempuan bernama We Tenriyabeng. Kedua anak kembar itu tidak dibesarkan bersama-sama. Sawerigading ingin menikahi We Tenriyabeng karena ia tidak tahu bahwa ia masih mempunyai hubungan darah dengannya. Ketika ia mengetahui hal itu, ia pun meninggalkan Luwu' dan bersumpah tidak akan kembali lagi. Dalam perjalannya ke Kerajaan Tiongkok, ia mengalahkan beberapa pahlawan termasuklah pemerintah Jawa Wolio yaitu Setia Bonga. Sesampainya di Tiongkok, ia menikah dengan putri Tiongkok, yaitu We Cudai.

Sawerigading digambarkan sebagai seorang kapten kapal yang perkasa dan tempat-tempat yang dikunjunginya antara lain adalah Taranate (Ternate di Maluku), Gima (diduga Bima atau Sumbawa), Jawa Rilau' dan Jawa Ritengnga, Jawa Timur dan Tengah), Sunra Rilau' dan Sunra Riaja (kemungkinan Sunda Timur dan Sunda Barat) dan Melaka. Ia juga dikisahkan melawat surga dan alam gaib. Pengikut-pengikut Sawerigading terdiri dari saudara-maranya dari pelbagai rantau dan rombongannya selalu didahului oleh kehadiran tamu-tamu yang aneh-aneh seperti orang bunian, orang berkulit hitam dan orang yang dadanya berbulu.

Sawerigading adalah ayah I La Galigo (yang bergelar Datunna Kelling). I La Galigo, juga seperti ayahnya, adalah seorang kapten kapal, seorang perantau, pahlawan mahir dan perwira yang tiada bandingnya. Ia mempunyai empat orang istri yang berasal dari pelbagai negeri. Seperti ayahnya pula, I La Galigo tidak pernah menjadi raja.

Anak lelaki I La Galigo yaitu La Tenritatta' adalah yang terakhir di dalam epik itu yang dinobatkan di Luwu'.

Isi epik ini merujuk ke masa ketika orang Bugis bermukim di pesisir pantai Sulawesi. Hal ini dibuktikan dengan bentuk setiap kerajaan ketika itu. Pemukiman awal ketika itu berpusat di muara sungai dimana kapal-kapal besar boleh melabuh dan pusat pemerintah terletak berdekatan dengan muara. Pusat pemerintahannya terdiri dari istana dan rumah-rumah para bangsawan. Berdekatan dengan istana terdapat Rumah Dewan (Baruga) yang berfungsi sebagai tempat bermusyawarah dan tempat menyambut pedagang-pedagang asing. Kehadiran pedagang-pedagang asing sangat disambut di kerajaan Bugis ketika itu. Setelah membayar cukai, barulah pedagang-pedagang asing itu boleh berniaga. Pemerintah selalu berhak berdagang dengan mereka menggunakan sistem barter, diikuti golongan bangsawan dan kemudian rakyat jelata. Hubungan antara kerajaan adalah melalui jalan laut dan golongan muda bangsawan selalu dianjurkan untuk merantau sejauh yang mungkin sebelum mereka diberikan tanggung jawab. Sawerigading digambarkan sebagai model mereka.


La Galigo di Sulawesi Tengah
Nama Sawerigading I La Galigo cukup terkenal di Sulawesi Tengah. Hal ini membuktikan bahwa kawsan ini mungkin pernah diperintah oleh kerajaan purba Bugis yaitu Luwu'.

Sawerigading dan anaknya I La Galigo bersama dengan anjing peliharaanya, Buri, pernah merantau mengunjungi lembah Palu yang terletak di pantai barat Sulawesi. Buri, yang digambarkan sebagai seekor binatang yang garang, dikatakan berhasil membuat mundur laut ketika I La Galigo bertengkar dengan Nili Nayo, seorang Ratu Sigi. Akhirnya, lautan berdekatan dengan Loli di Teluk Palu menjadi sebuah danau iaitu Tasi' Buri' (Tasik Buri).

Berdekatan dengan Donggala pula, terdapat suatu kisah mengenai Sawerigading. Bunga Manila, seorang ratu Makubakulu mengajak Sawerigading bertarung ayam. Akan tetapi, ayam Sawerigading kalah dan ini menyebabkan tercetusnya peperangan. Bunga Manila kemudian meminta pertolongan kakaknya yang berada di Luwu'. Sesampainya tentara Luwu', kakak Bunga Manila mengumumkan bahwa Bunga Manila dan Sawerigading adalah bersaudara dan hal ini mengakhiri peperangan antara mereka berdua. Betapapun juga, Bunga Manila masih menaruh dendam dan karena itu ia menyuruh anjingnya, Buri (anjing hitam), untuk mengikuti Sawerigading. Anjing itu menyalak tanpa henti dan ini menyebabkan semua tempat mereka kunjungi menjadi daratan.

Kisah lain yang terdapat di Donggala ialah tentang I La Galigo yang terlibat dalam adu ayam dengan orang Tawali. Di Biromaru, ia mengadu ayam dengan Ngginaye atau Nili Nayo. Ayam Nili Nayo dinamakan Calabae sementara lawannya adalah Baka Cimpolo. Ayam I La Galigo kalah dalam pertarungan itu. Kemudian I La Galigo meminta pertolongan dari ayahnya, Sawerigading. Sesampainya Sawerigading, ia mendapati bahwa Nili Nayo adalah bersaudara dengan I La Galigo, karena Raja Sigi dan Ganti adalah sekeluarga.

Di Sakidi Selatan pula, watak Sawerigading dan I La Galigo adalah seorang pencetus tamadun dan inovasi.



La Galigo di Sulawesi Tenggara
Ratu Wolio pertama di Butung (Butuni atau Buton) di gelar Wakaka, dimana mengikut lagenda muncul dari buluh (bambu gading). Terdapat juga kisah lain yang menceritakan bahwa Ratu Wolio adalah bersaudara dengan Sawerigading. Satu lagi kisah yang berbeda yaitu Sawerigading sering ke Wolio melawat Wakaka. Ia tiba dengan kapalnya yang digelar Halmahera dan berlabuh di Teluk Malaoge di Lasalimu.

Di Pulau Muna yang berdekatan, pemerintahnya mengaku bahwa ia adalah keturunan Sawerigading atau kembarnya We Tenriyabeng. Pemerintah pertama Muna yaitu Belamo Netombule juga dikenali sebagai Zulzaman adalah keturunan Sawerigading. Terdapat juga kisah lain yang mengatakan bahwa pemerintah pertama berasal dari Jawa, kemungkinan dari Majapahit. Permaisurinya bernama Tendiabe. Nama ini mirip dengan nama We Tenyirabeng, nama yang di dalam kisah La Galigo, yang menikah dengan Remmangrilangi', artinya, 'Yang tinggal di surga'. Ada kemungkinan Tendiabe adalah keturunan We Tenyirabeng. Pemerintah kedua, entah anak kepada Belamo Netombule atau Tendiabe atau kedua-duanya, bernama La Patola Kagua Bangkeno Fotu.

Sementara nama-nama bagi pemerintah awal di Sulawesi Tenggara adalah mirip dengan nama-nama di Tompoktikka, seperti yang tercatat di dalam La Galigo. Contohnya Baubesi (La Galigo: Urempessi). Antara lainnya ialah Satia Bonga, pemerintah Wolio(La Galigo: Setia Bonga).
 

La Galigo di Gorontalo
Legenda Sawerigading dan kembarnya, Rawe, adalah berkait rapat dengan pembangunan beberapa negeri di kawasan ini. Mengikut legenda dari kawasan ini, Sarigade, putera Raja Luwu' dari negeri Bugis melawat kembarnya yang telah hidup berasingan dengan orangtuanya. Sarigade datang dengan beberapa armada dan melabuh di Tanjung Bayolamilate yang terletak di negeri Padengo. Sarigade mendapat tahu bahwa kembarnya telah menikah dengan raja negeri itu yaitu Hulontalangi. Karena itu bersama-sama dengan kakak iparnya, ia setuju untuk menyerang beberapa negeri sekitar Teluk Tomini dan membagi-bagikan kawasan-kawasan itu. Serigade memimpin pasukan berkeris sementara Hulontalangi memimpin pasukan yang menggunakan kelewang. Setelah itu, Sarigade berangkat ke Tiongkok untuk mencari seorang gadis yang cantik dikatakan mirip dengan saudara kembarnya. Setelah berjumpa, ia langsung menikahinya.

Terdapat juga kisah lain yang menceritakan tentang pertemuan Sawerigading dengan Rawe. Suatu hari, Raja Matoladula melihat seorang gadis asing di rumah Wadibuhu, pemerintah Padengo. Matoladula kemudian menikahi gadis itu dan akhirnya menyadari bahwa gadis itu adalah Rawe dari kerajaan Bugis Luwu'. Rawe kemudiannya menggelar Matoladula dengan gelar Lasandenpapang.


La Galigo di Malaysia dan Riau
Kisah Sawerigading cukup terkenal di kalangan keturunan Bugis dan Makasar di Malaysia. Kisah ini dibawa sendiri oleh orang-orang Bugis yang bermigrasi ke Malaysia. Terdapat juga unusur Melayu dan Arab diserap sama.

Pada abad ke-15, Melaka di bawah pemerintahan Sultan Mansur Syah diserang oleh 'Keraing Semerluki' dari Makassar. Semerluki yang disebut ini berkemungkinan adalah Karaeng Tunilabu ri Suriwa, putera pertama kerajaan Tallo', dimana nama sebenarnya ialah Sumange'rukka' dan beliau berniat untuk menyerang Melaka, Banda dan Manggarai.

Perhubungan yang jelas muncul selepas abad ke-15. Pada tahun 1667, Belanda memaksa pemerintah Goa untuk mengaku kalah dengan menandatangani Perjanjian Bungaya. Dalam perjuangan ini,Goa dibantu oleh Arung Matoa dari Wajo'. Pada tahun berikutnya, kubu Tosora dimusnahkan oleh Belanda dan sekutunya La Tenritta' Arung Palakka dari Bone. Hal ini menyebabkan banyak orang Bugis dan Makassar bermigrasi ke tempat lain. Contohnya, serombongan orang Bugis tiba di Selangor di bawah pimpinan Daeng Lakani. Pada tahun 1681, sebanyak 150 orang Bugis menetap di Kedah. Manakala sekitar abad ke-18, Daeng Matokko' dari Peneki, sebuah daerah di Wajo', menetap di Johor. Sekitar 1714 dan 1716, adiknya, La Ma'dukelleng, juga ke Johor. La Ma'dukelleng juga diberi gelar sebagai pemimpin bajak laut oleh Belanda.

Keturunan Opu Tenriburong memainkan peranan penting dimana mereka bermukim di Kuala Selangor dan Klang keturunan ini juga turut dinobatkan sebagai Sultan Selangor dan Sultan Johor. Malahan, kelima-lima anak Opu Tenriburong memainkan peranan yang penting dalam sejarah di kawasan ini. Daeng Merewah menjadi Yang Dipertuan Riau, Daeng Parani menikah dengan puteri-puteri Johor, Kedah dan Selangor dan juga ayanhanda kepada Opu Daeng Kamboja (Yang Dipertuan Riau ketiga), Opu Daeng Manambung (menjadi Sultan Mempawah dan Matan), Opu Daeng Cella' (menikah dengan Sultan Sambas dan keturunannya menjadi raja di sana).

Pada abad ke-19, sebuah teks Melayu yaitu Tuhfat al-Nafis mengandung cerita-cerita seperti di dalam La Galigo. Walaubagaimanapun, terdapat perubahan-perubahan dalam Tuhfat al-Nafis seperti permulaan cerita adalah berasal dari Puteri Balkis, Permaisuri Sheba dan tiada cerita mengenai turunnya keturunan dari langit seperti yang terdapat di dalm La Galigo. Anak perempuannya, Sitti Mallangke', menjadi Ratu Selangi, sempena nama purba bagi pulau Sulawesi dan menikah dengan Datu Luwu'. Kisah ini tidak terdapat dalam La Galigo. Namun demikian, anaknya, yaitu Datu Palinge' kemungkinan adalah orang yang sama dengan tokoh di dalam La Galigo.


La Galigo dalam seni pentas
La Galigo sudah diadaptasi ke dalam seni pentas oleh sutradara Robert Wilson setelah diadaptasi oleh Rhoda Grauer. Pertunjukan ini telah dipertunjukkan sejak tahun 2004 di Asia, Eropa, Australia dan Amerika Serikat.

Dalam bagian-bagian dari cerita yang dikisahkan, para aktor tidak saling berbicara tapi mengekspresikan diri mereka melalui tari dan gerak tubuh. Bagian cerita dinarasi oleh seorang narator dalam versi bahasa Bugis aslinya. Pertunjukan sepanjang tiga jam ini disertai dengan penggunaan ekstensif efek cahaya untuk karakteristik pekerjaan Wilson dan disertai pula oleh musik oleh ansambel panggung. Pertunjukan ini menggunakan musik tradisional Sulawesi, namun sebenarnya telah disusun dan diproduksi oleh komponis Jawa Rahayu Supanggah setelah riset yang intensif di Sulawesi Selatan.

Untuk menciptakan ekspresi dramatis yang lebih baik, instrumen Jawa dan Bali lainnya ditambahkan ke dalam lima instrumen Sulawesi tradisional aslinya, dan instrumen lain yang baru juga dibuat, sehingga akhirnya terdapat 70 instrumen yang dimainkan oleh 12 musisi. Para pelaku produksi pentas ini terdiri dari 53 pemusik dan penari yang semuanya datang secara ekslusif dari Indonesia dan sebagian besar dari Sulawesi, serta salah satu dari sedikit pendeta tradisional bissu (pendeta non gender) Bugis, yang tersisa dari komunitas non gender Bugis, Puang Matoa Saidi yang menceritakan sebagian dari cerita.


sumber
Kamis, Juli 07, 2011 | 0 komentar

Sekolah di Uganda Gunakan Bom Sebagai Bel


Ketidak-tahuan bisa mendatangkan bencana! Satu tim kesadaran ranjau di Uganda terkejut bukan main saat mengetahui satu bom yang tak meledak digunakan sebagai bel ketika mereka mengunjungi satu sekolah untuk mengajarkan anak-anak cara mengetahui bom, demikian laporan satu harian lokal.

Organisasi Anti-Mine Network melihat beberapa guru memukul bom itu dengan batu untuk memanggil anak-anak agar masuk kelas di sekolah yang memiliki 700 siswa di satu daerah pedesaan, kata Daily Monitor.

"Hululedaknya masih aktif, yang berarti jika dipukul lebih kuat lagi, maka bom itu akan meledak dan mengakibatkan kerusakan yang tak terperikan," kata Wilson Bwambale, koordinator organisasi tersebut, kepada surat kabar itu sebagaimana dikutip Reuters --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Senin.

Bwambale mengatakan mereka akan meledakkan bom tersebut di satu daerah yang ditutup.

Militer Uganda telah memerangi dua pemberontakan selama dua dasawarsa belakangan dan ranjau serta bom masih berceceran di bekas medan tempur di seluruh negeri itu.

Itu adalah bom kedua yang telah ditemukan Anti-Mine Network di satu sekolah Uganda dalam enam bulan belakangan.

Satu bom lagi ditemukan sewaktu digunakan oleh anak-anak pada waktu makan sebagai mainan dan ditaruh di ruang penyimpanan selama pelajaran berlangsung.
Kamis, Juli 07, 2011 | 0 komentar

Categories